Harapan akan kala itu

Kala itu . . . Masa ini belum terjadi

Kala itu . . . Masa ini belum pernah terpikirkan, belum pernah terbesik sedikit pun di pikiran ini.

Andaikan kala itu, masa ini telah terngiang, mungkin semuanya takkan pernah terjadi. Semua kegagalan ini mungkin bisa teratasi, semua kepahitan ini takkan ku alami.

Sudahlah. Semua memang begini adanya. Semua telah terencana sedemikian rupa. Sehingga aku bisa belajar dari sebuah kesalahan, belajar dari kegagalan yang sama. Belajar dari kenekatan yang hanya membuat pilu.

Iklan

Unknown

Ada di mana saatnya kehidupan tidak memiliki tujuan. Tujuan untuk melakukan apapun. 

Aneh rasanya saat tak memiliki semangat dan niat untuk produktif. 

Rasa bersalah dan rasa risih mulai timbul, saat semua itu terjadi. Ampunilah hidup ini!!! Hidup yang semakin abstrak dan semakin tersamarkan. 

Semakin jauh menyelaminya semakin tak tahu arah ke mana yang dituju. Hilang begitu saja tujuan untuk menyelam. Hilang begitu saja tujuan untuk terus maju. 

Akan tetap begini? Begini terus untuk tetap tak tahu arah. TIDAK!!! Tak mungkin ini akan terus terjadi. Sadar dan refleksilah satu-satunya jalan, untuk kembali bangkit dari ketidak tahuan arah ini.

Wahai kehidupan. Raga ini ingin sekali lagi bangkit!!! Bangkit dari keterpurukan. Bangkit untuk terus maju demi dia. Demi meraka. Demi Engkau. Dan demi diri ini sendiri.

Hai kau!

Kisah itu memang dimulai dari awal dan pada akhirnya akan berakhir.

Kisah yang ada saat ini, telah dimulai. Namun, belum memiliki ujung yang pasti. Mungkin, akhir dari kisah ini masih belum terlihat. Sangat belum terlihat.

Bukannya dia tidak ingin menampakkan dirinya, tapi belum saatnya untuk dia untuk menampakkan dirinya.

Tapi keyakinan yang ada saat ini, memilih untuk tetap bertahan. Bertahan untuk yakin, bahwa kisah itu tidak akan berakhir nantinya.

Dirimu adalah sebuah takdir yang dinantikan

“Bertemu denganmu adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihan, namun jatuh hati padamu itu diluar kemampuanku”

Sebuah kutipan yang menyadarkan, bahwa pada dasarnya diri ini hanya mampu untuk memilihmu sebagai seorang teman, selebihnya akan terus bergulir sebagai mana proses dari pilihan tersebut.

Adakalanya diri ini merasa bahwa, proses yang selama ini terjadi membuat semuanya menjadi baik pada akhirnya, namun semua sudah di luar batas kemampuan. Pada akhirnya juga, biarkanlah diri ini menikmati apa pun yang terjadi dengan apa yang tidak dikehendaki.

Apapun yang terjadi nanti, jawaban dari semua ungkapan ini biarlah menjadi sebuah proses ataupun kenangan yang indah pada akhirnya 🙂

Bagaikan harapan menjamah bintang

“Andaikan dia tahu, siksaan yang kurasakan saat harus jatuh cinta kepadanya, secara diam-diam”

Terkadang, sebuah “perasaan” datang begitu saja saat kita tak menghendakinya. “Perasaan” yang memaksa jantung ini untuk terus berdegup kencang, bagaikan sebuah genderam di saat perang terjadi. Namun, itulah yang sebuah kenikmatan dan keindahan yang terjadi.

Dibalik itu semua, muncul secerca siksaan, saat hanya satu pihak yang merasakannya. Siksaan yang memaksa hati ini untuk secara diam-diam menyimpan “perasaan” itu. Bagaikan situasi di mana engkau harus berkata jujur, namun akan membunuh dirimu sendiri.

Seiring berputarnya jarum jam dinding, ingin ku akhiri siksaan ini, namun di sisi lain hati ini menikmati apa yang terjadi. Begitu pula semua raga ini, seakan mati dibuatnya. Bukan, karena hati dan raga ini tak memiliki nyali, namun merasa tak pantas akan perasaan yang secara diam-diam terus mengagumi mu, dari sudut terkecil yang ada.

Bagaikan melihat sebuah bintang dari lubang teleskop, hati ini pun merasa demikian. Merasa engkau sebuah bintang, yang hanya dapat dinikmati melalui mata ini, dan tak bisa menjamah indahnya dirimu.

Harapan = Secuil Senyuman

Bagaikan memandang langit indah, tapi tak bisa menyentuhnya. Seperti ada jarak yang menghalangi, jauh . . . jauh sekali.

Ingin sekali rasanya tangan ini menyentuh mu dan memelukmu, namun itu hanya sebuah kemustahilan yang takan pernah terjadi, karena diri ini sadar akan jarak itu.

Andai saja, dunia ini tidak pernah tercipta dengan adanya jarak, mungkin saja sejak aku ada, semua kemustahilan telah terjadi.

Andai saja diri ini memiliki secuil keberanian, maka harapan itu akan muncul. Harapan untuk menggenggam mu secara utuh, meskipun harapan yang ada hanya 50:50. Setidaknya dengan datangnya harapan itu, diri ini bisa terlelap dengan senyuman dimalam yang syahdu.

 

?

Lihat tandanya itu [?]

Tanda tanya yang mana? apakah tanda tanya yang mempertanyakan antara aku dan kamu. Tanda tanya yang mempertanyakan apa arti semua ini? , jikalau engkau bertanya akan tanda tanya itu, ada banyak tanda tanya yang mempertanyakan semua antara kita.

Bukan aku ingin mengabaikan tanda tanya itu, tapi aku ingin melihat seberapa besar tanda tanya itu mempertanyakan semuanya tentang kita. Seberapa pantas tanda tanya itu juga bertanya tentang kita. Seberapa pantaskah dia ada untuk kita?

Keluh kesah akan tanda tanya itu akan terjawab nanti, saat di antara kita siap untuk menjawabnya, saat sa;ah satu di antara kita mau untuk mengungkapnya