Tatkala hidup tak lagi nikmat

“tatkala hidup tak lagi nikmat, dan secangkir kopimu semakin terasa pahit”

Jika dan hanya jika pahit menciptakan ketidaknikmatan, maka manislah penengahnya. Hidup bukan tentang aku, kamu, kita, mereka. Hidup mencakup semuanya, di kala semuanya itu tak dapat didefinisikan. Belum sempat atau memang belum terlintas untuk menciptakan definisi tersebut. 

Akan ada masa di mana semua yang belum terdefinisikan, ditulis dalam sebuah kamus kehidupan antara aku, kamu, kita, mereka, dan yang belum terdefinisikan.(oln)

Iklan

tak kala sebuah skenario diusik

Alur sebuah cerita dari sepenggal skenario tak selalu berjalan dengan apa yang tertulis. Siapa lagi, kalau bukan improvisasi pelakunya. Karena, ia datang untuk menghancurkan sebuah ke-monoton-an.

Tapi, layaknya sebuah atau semua yang berlebihan, improvisasi akan membabi-butakan semua alur cerita. Tiap kata perkata, hingga si tetuah mati karenanya, yang membuat para revolusioner mulai menunjukkan tahu beringas mereka. Karena, itulah setiap alur yang telah tercipta berubah begitu saja, tanpa adanya akhirnya dari skenario tersebut.

30 minutes [II]

Berlalu sudah 30 menit kala itu, kau dan aku kembali seperti halnya kertas yang sudah tak terpakai, disobek dan dibuang..

seakan ketidaktahuan itu kembali muncul di antara pikiran, yang selalu aku pikirkan.

.

Tapak demi setapak kaki ini melangkah menyusuri 30 menit yang telah berlalu, berharap akan ada tambahan waktu di antara aku, kamu dan kita.

.

meskipun waktu tak akan berhenti, namun aku yang ada di dalam kita percaya, waktu akan berhenti sementara, ketika kita menyatukan rasa saling merasai.(oln)

30 minutes

sembari memandangi cahaya bulan, kau memberi sebuah harapan tepat di depanku.tergambar jelas rupamu yang tatkala ingin ku ucapkan “betapa nyamannya aku menikmati, indahnya dirimu” . 

Sebuah cerita yang entah siapa yang memulainya, kau hadir dalam keramaian tanpa sedikit pun menghardik ku untuk meminta sandaran, lembutnya bibirmu menghantarkan kata yang lembut itu ke dalam gendang telingaku yang terlalu peka terhadap setiap ucapanmu.

30 menit tak akan berarti jikalau kamu tak pernah berusaha untuk melontarkan setiap kata demi kata dengan senyuman dan harapan. (Oln) 

Dialah yang empunya jawaban tersebut

Inginku pertanyakan kepada dia di sana. Apakah jawaban dia masih sama, apakah dia masih tak ingin melakukannya.

Namun, biarkanlah pertanyaan ini ku simpan untuk lamanya waktu yang tak ditentukan. Andaikan kala itu pertanyaan itu tak aku sampaikan, mungkinkah jawabannya juga akan sama saat ini.

Ya, terkadang waktu tak bisa mengartikan semuanya. Karena, hanya dialah yang tahu akan semuanya. Bukan waktu, aku, mereka, hanya dia seorang.

Aku berharap suatu saat nanti waktu bisa mengartikan dan menjawab pertanyaan yang ingin kutanyakan nanti (lagi).

Harapan akan kala itu

Kala itu . . . Masa ini belum terjadi

Kala itu . . . Masa ini belum pernah terpikirkan, belum pernah terbesik sedikit pun di pikiran ini.

Andaikan kala itu, masa ini telah terngiang, mungkin semuanya takkan pernah terjadi. Semua kegagalan ini mungkin bisa teratasi, semua kepahitan ini takkan ku alami.

Sudahlah. Semua memang begini adanya. Semua telah terencana sedemikian rupa. Sehingga aku bisa belajar dari sebuah kesalahan, belajar dari kegagalan yang sama. Belajar dari kenekatan yang hanya membuat pilu.