Bagaikan harapan menjamah bintang

“Andaikan dia tahu, siksaan yang kurasakan saat harus jatuh cinta kepadanya, secara diam-diam”

Terkadang, sebuah “perasaan” datang begitu saja saat kita tak menghendakinya. “Perasaan” yang memaksa jantung ini untuk terus berdegup kencang, bagaikan sebuah genderam di saat perang terjadi. Namun, itulah yang sebuah kenikmatan dan keindahan yang terjadi.

Dibalik itu semua, muncul secerca siksaan, saat hanya satu pihak yang merasakannya. Siksaan yang memaksa hati ini untuk secara diam-diam menyimpan “perasaan” itu. Bagaikan situasi di mana engkau harus berkata jujur, namun akan membunuh dirimu sendiri.

Seiring berputarnya jarum jam dinding, ingin ku akhiri siksaan ini, namun di sisi lain hati ini menikmati apa yang terjadi. Begitu pula semua raga ini, seakan mati dibuatnya. Bukan, karena hati dan raga ini tak memiliki nyali, namun merasa tak pantas akan perasaan yang secara diam-diam terus mengagumi mu, dari sudut terkecil yang ada.

Bagaikan melihat sebuah bintang dari lubang teleskop, hati ini pun merasa demikian. Merasa engkau sebuah bintang, yang hanya dapat dinikmati melalui mata ini, dan tak bisa menjamah indahnya dirimu.

Harapan = Secuil Senyuman

Bagaikan memandang langit indah, tapi tak bisa menyentuhnya. Seperti ada jarak yang menghalangi, jauh . . . jauh sekali.

Ingin sekali rasanya tangan ini menyentuh mu dan memelukmu, namun itu hanya sebuah kemustahilan yang takan pernah terjadi, karena diri ini sadar akan jarak itu.

Andai saja, dunia ini tidak pernah tercipta dengan adanya jarak, mungkin saja sejak aku ada, semua kemustahilan telah terjadi.

Andai saja diri ini memiliki secuil keberanian, maka harapan itu akan muncul. Harapan untuk menggenggam mu secara utuh, meskipun harapan yang ada hanya 50:50. Setidaknya dengan datangnya harapan itu, diri ini bisa terlelap dengan senyuman dimalam yang syahdu.

 

?

Lihat tandanya itu [?]

Tanda tanya yang mana? apakah tanda tanya yang mempertanyakan antara aku dan kamu. Tanda tanya yang mempertanyakan apa arti semua ini? , jikalau engkau bertanya akan tanda tanya itu, ada banyak tanda tanya yang mempertanyakan semua antara kita.

Bukan aku ingin mengabaikan tanda tanya itu, tapi aku ingin melihat seberapa besar tanda tanya itu mempertanyakan semuanya tentang kita. Seberapa pantas tanda tanya itu juga bertanya tentang kita. Seberapa pantaskah dia ada untuk kita?

Keluh kesah akan tanda tanya itu akan terjawab nanti, saat di antara kita siap untuk menjawabnya, saat sa;ah satu di antara kita mau untuk mengungkapnya